Jumat, 23 Desember 2016

Crime Report Data (studi Kasus Baekuni/Babe)


Modus Operandi

What               : Kekerasan seksual terhadap anak-anak

How                :

-          Suspect’s action                      : Mengajak korban untuk dimandikan, kemudian meminta korban untuk melayani nafsu seksualnya di kamar mandi. Penolakan korban menyulut amarah pelaku, sehingga korban menjerat leher korban dengan tali rafia. Bila korban telah dipastikan meninggal, pelaku mulai menyodomi mayat korban. Untuk menghilangkan jejak, pelaku membuang mayat korban dengan sebelumnya dimutilasi terlebih dahulu.

-          Action against property          : Tidak ada objek yang dirusak karena ini bukan kejahatan perusakan property

-          Object of attack                      : Tidak ada objek yang dirusak karena ini bukan kejahatan perusakan property

-          Method of departure               : Pelaku meninggalkan TKP dengan berjalan kaki. Rumah pelaku, sebagai TKP berada di gang sempit sehingga besar kemungkinan pelaku meninggalkan rumah dengan berjalan kaki.

-          Weapon of type                      : Pisau

-          Property taken                         : Tidak terdapat property korban yang diambil karena ini bukan kejahatan property

Where              :

-          Address                                   : Gang Mudalim, Jalan Masjid.

-          Address name                         : Kontrakan Babeh

-          Type of location                      : Sebuah rumah yang disewa pelaku dan telah ditinggali selama dua tahun

-          Area                                        : Tepatnya berada di antara padatnya pemukiman yang terletak berapa ratus meter di belakang terminal Pulogadung.

When               :

-          Exact time                               : Tidak dapat dipastikan

-          First date and time                  : Tahun 2000

-          Last date and time                  : Sabtu, 9 Januari 2010 pukul 03.00 wib



Orang-orang yang terlibat dalam kejahatan

Data tentang orang yang terlibat dalam kejahatan termasuk deskripsi jenis kontak, nama dan alamat orang tersebut, deskripsi fisik, dan deskripsi kondisi psikis saat kejahatan terjadi.

Tipe kontak: klasifikasi individu dalam peristiwa kejahatan , termasuk:

-          Investigative lead: orang yang menjadi tersangka potensial untuk kasus kejahatan tertentu. Dalam hal ini Baekuni menjadi tersangka potensial karena korban Ardiansyah diketahui terakhir bersama Baekuni sebelum dilaporkan menghilang oleh orang tuanya.

-          Mention: orang yang disebutkan dalam laporan. Dalam hal ini Baekuni disebutkan dalam laporan orang tua Ardiansyah karena orang tua korban curiga terhadapnya.

-          Suspect: orang yang telah terlihat terlibat dalam kejahatan atau tentang siapa yang memiliki bukti cukup untuk dijadikan tersangka (biasanya hanya berupa deskripsi fisik). Dalam kasus ini Baekuni menjadi tersangka. Saat polisi menggeledah rumahnya di Pulogadung, polisi menemukan foto-foto anak-anak laki-laki yang dimasukkan dalam kotak rokok. Foto-foto tersebut berukuran 2 kali 2,5 cm.

-          Victim: orang yang menjadi korban kejahatan. Dalam kasus ini, yang menjadi korban adalah anak-anak laki-laki yang berusia 7-12 tahun.

-          Witness: orang yang mampu menjelaskan informasi tentang suatu kejahatan. Dalam kasus tersebut, saksi adalah orang tua korban (Ardiansyah).

Nama (dapat berupa nama samaran)/alamat/tanggal lahir:

Babe bernama asli Baekuni. Ia lahir tahun 1961 di Magelang, Jawa Tengah. Saat melakukan kejahatannya, Babe tinggal di jalan Haji Dalim, gang Sesama RT 06 RW 02 Kelurahan Pulogadung.

Deskripsi fisik: gambaran orang terkait ciri-ciri fisik yang tetap

-          Usia                             : 49 tahun (saat ditangkap)

-          Jenis kelamin               : laki-laki

-          Tinggi                          : 160an

-          Berat badan                 : 60an kg

-          Warna mata                 : hitam

-          Ras/etnisitas                :Jawa

-          Perawakan                   :kekar

-          Kondisi gigi                : kekuningang akibat merokok

-          Penggunaan tangan     :tangan kanan (tidak kidal)

Kondisi fisik: gambaran orang terkait ciri-ciri fisik yang tidak tetap

-          Warna rambut                                     : sebagian besar rambutnya sudah beruban

-          Panjang rambut                                   : rambut pendek

-          Kondisi fisik (pemalu, gemetar)          : tenang, ramah

-          Rambut yang tumbuh di muka           :berkumis

-          Penampilan                                          :dekil

-          Warna kulit                                         :coklat

Lampiran Kasus

Kisah Hidup Pembunuh Berantai[1]

Kamis, 14 Januari 2010, 15:52Eko Priliawito, Sandy Adam Mahaputra

VIVAnews - Namanya singkat. Baekuni. Lahir di Magelang, Jawa Tengah, pria tinggi kekar ini membuat kita semua merinding sepekan terakhir. Dia mengaku telah membunuh tujuh anak jalanan.

Semuanya berumur di bawah 12 tahun. Dan ini yang bikin seram, tiga diantaranya dimutilasi pakai golok. Mereka adalah anak jalan yang berada di daerah Jakarta Timur.

Sejumlah kabar menyebutkan bahwa lantaran takut mendengar kisah si Baekuni ini, kawasan Terminal Pulogadung kini sepi dari anak-anak jalanan. Mereka ngeri membayangkan keganasan pria yang akrab disapa babe itu.

Tapi siapa si babe ini? Tak banyak yang tahu. Informasi tentang jati dirinya dan riwayat masa kecilnya cuma sedikit yang terkuak. Sarlito Wirawan, Psikolog Universitas Indonesia, yang bertemu dengan babe di rumah tahanan Polda Metro Jaya mengisahkan kepada wartawan ihlwal jati diri si Baekuni ini.

Babe lahir di Magelang. Ayahnya seorang petani.Masa kecilnya memang tidak bahagia. Selalu diolok-olok teman-teman sekolah, lantaran tidak pernah naik kelas. Karena tidak naik kelas itu, Baekuni "tamat" di kelas 3 SD.

Lalu dia kabur sendirian ke Jakarta, pada usia yang masih sangat belia untuk merantau, 12 tahun.  Di ibukota dia menggelandang di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Untuk makan-minum sehari-hari dia mencari uang dengan mengamen.

Anak belia terjun ke dunia yang kelam. Baekuni mengalami hampir semua kekejaman jalanan. Dia juga pernah disodomi. "Waktu itu dia menolak tapi karena dipaksa tidak bisa melawan," ujar Sarlito, melalui surat elektronik yang diterimaVIVAnews, Kamis 14 Januari 2010.

Setelah itu, Babe bertemu seseorang bernama Cuk Saputra, dia kemudian dibawa ke Kuningan, Jawa Barat dan diminta untuk memelihara kerbau.

Di Kuningan itulah dia bersua dengan jodohnya. Seorang wanita yang sangat dicintainya. Dia menikah umur 21 tahun. Tapi jiwa dan raganya dipenjara trauma. Dan mohon maaf, si Baekuni mengaku tidak mampu berhubungan --layaknya suami istri- hingga wanita yang dicintainya itu meninggal dunia.

Ditinggal mati sang istri, Babe kemudian kembali lagi ke ibukota. Menjajal lagi Jakarta yang sulit. Dia memulai hidupnya di kawasan Terminal Pulogadung. Menjadi penjual rokok dan memelihara anak jalanan.

Di sanalah harsat seksual yang menyimpang kian menjerat Baekuni. Bila hasrat seksualnya datang, dia tidak perlu jauh-jauh mencarinya. Cukup mengambil satu dari anak-anak jalanan yang dipeliharanya. Belakangan tidak cuma seks yang menyimpang, dia juga membunuh 7 dari anak-anak itu.

Semua  kasus pembunuhan yang dilakukan Babe polanya selalu sama, bila mereka menolak diikat dengan tali rapia. Setelah mati baru berhubungan seks dan korban dimutilasi untuk menghilangkan jejak. 

"Tiga korban dimutilasi dan empat korban pembunuhan biasa," ujar Sarlito lagi.

Babe juga mengaku bahwa hanya tujuh kali melakukan hubungan seksual dan hanya dilakukan dengan korbannya. Dia juga tidak pernah mengalami mimpi basah. Sementara Adi, salah satu korbanya telah dirawat selama enam bulan oleh Babe.

"Jelas dia homoseks bawaan, bukan jadi-jadian. Dia hanya bisa ereksi pada sesama jenis," katanya.

Dengan prilaku seperti ini, Babe bisa dikatakan sebagai penderita pedofil, karena selalu melakukan dengan anak di bawah 12 tahun.

Babe juga pengidap ganguan mikrofili atau berhubungan seks dengan mayat, walaupun itu terpaksa. Pelaku adalah dampak dari gambarangan  kemiskinan. Namun tidak bisa dibilang psikopat. 

"Itu terlalu cepat bilang psikopat. Ada 23 kriteria untuk mendiagnosa psikopat," ujar Sarlito. 

Atas perbuatannya ini, pelaku dapat menjalani proses dan persidangan karena tidak mengalami gangguan jiwa. Dia selalu melakukan pembunuhan itu secara sadar.





Jawaban Babe Soal Seks Menyimpangnya[2]

Jum'at, 15 Januari 2010, 13:37Umi Kalsum, Sandy Adam Mahaputra

VIVAnews - Baekuni alias Babe kini meringkuk di tahanan Mabes Polri untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Babe diduga pelaku pembunuhan terhadap tujuh bocah laki-laki di bawah usia 12 tahun. Empat di antaranya dibunuh dengan dimitulasi.

Setelah membunuh korbannya yang kebanyakan anak jalanan, Babe kemudian menyodomi bocah-bocah malang tersebut.

Apa jawaban Babe saat ditanya kenapa ia senang menyodomi korbannya? "Ya begitulah, karena rasanya puas," ujar Babe sambil tersenyum saat digiring dari ruang tahanan narkoba ke ruang penyidik Reskrimum di Direktorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat 15 Januari 2009.

Babe secara gamblang mengakui senang dengan anak-anak kecil. "Karena (mereka) anak kesayangan saya," kata pria berusia 50 tahun ini.

Dari pemeriksaan psikologis terhadap Babe, yang dilakukan ahli psikologi Universitas Indonesia, Sarlito Wirawan Sarwono, Kamis 14 Januari 2010 kemarin, dalam melumpuhkan korbannya Babe selalu memiliki pola yang tidak pernah berubah-ubah. Dia akan memilih korbannya dari luar anak-anak jalan yang dia pelihara.

Dari pemeriksaan itu terkuak tujuh pembunuhan yang dilakukan Babe dengan pola yang sama. Kecuali Ardiansyah, korban terakhirnya yang merupakan anak yang dipeliharanya sendiri.

Seluruh anak jalanan yang dekat dengan Babe hampir tidak pernah disentuh sejak 2007. Meskipun Sarlito mengatakan bahwa Babe termasuk pedofilia atau menyukai anak-anak.

Selain memiliki pola memilih dari luar kelompoknya, Babe juga melakukan pola yang sama saat melakukan tindakan memutilasi tersebut. "Kompulsinya dia ikuti pola teratur, dia awalnya ajak korban ke kamar mandi untuk mandi, ketika mau hubungan seks lalu ditolak, setelah di tolak lalu dia ikat pakai tali rafia, kemudian dilakukan hubungan seks dengan cara di sodomi, dia selalu gunakan kardus membuang mayat setelah di mutilasi lalu dibuang ketempat ramai supaya ditemukan orang dan dikubur," jelas Sarlito.

Sedangkan pengacara korban, Haposan Hutagalung mengatakan jika memang korban Babe bukan dari anak asuhnya. Biasanya babe sudah melihat jika ada anak jalanan yang menjadi tergetnya, dia akan merawatnya dan korban akan dapat perlakukan istimewa. Babe selalu memilih anak-anak jalanan yang bersih, berparas ganteng dan biasanya korban babe adalah teman-teman dari anak asuhnya.

Inilah daftar tujuh korban Babe:

1. Arif Kecil (6), TKP Terminal Pulo Gadung, potong empat tanpa kepala, Kamis 15 Mei 2008.

2. Adi (12) TKP Pasar Klender, Cakung, 9 Juli 2007, dipotong dua bagian.

3. Ardiansyah (10) TKP Jalan Raya Bekasi KM 27, Ujung Menteng, Cakung, Jumat 8 Januari 2010

4. Rio, TKP Depan Bekasi Trade Center, Jalan Joyomartono, Bekasi Timur, Senin 14 Januari 2008. Dipotong empat tanpa kepala.

5. Riki, TKP Kelapa Gading, luka jerat di leher, anus disumpal koran. (Tidak Ddimutilasi)

6. Arif Besar di Kuningan, Jawa Barat, tidak dimutilasi, dijerat lalu dikubur. (Tidak dimutilasi)

7. Yusuf, TKP belum diketahui.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar