Modus
Operandi
What : Kekerasan seksual terhadap anak-anak
How :
-
Suspect’s action : Mengajak korban untuk
dimandikan, kemudian meminta korban untuk melayani nafsu seksualnya di kamar
mandi. Penolakan korban menyulut amarah pelaku, sehingga korban menjerat leher
korban dengan tali rafia. Bila korban telah dipastikan meninggal, pelaku mulai
menyodomi mayat korban. Untuk menghilangkan jejak, pelaku membuang mayat korban
dengan sebelumnya dimutilasi terlebih dahulu.
-
Action against
property : Tidak ada objek yang
dirusak karena ini bukan kejahatan perusakan property
-
Object of attack : Tidak ada objek yang
dirusak karena ini bukan kejahatan perusakan property
-
Method of
departure : Pelaku
meninggalkan TKP dengan berjalan kaki. Rumah pelaku, sebagai TKP berada di gang
sempit sehingga
besar kemungkinan pelaku meninggalkan rumah dengan berjalan kaki.
-
Weapon of type : Pisau
-
Property taken : Tidak terdapat
property korban yang diambil karena ini bukan kejahatan property
Where :
-
Address : Gang
Mudalim, Jalan Masjid.
-
Address name :
Kontrakan Babeh
-
Type of location : Sebuah rumah yang disewa
pelaku dan telah ditinggali selama dua tahun
-
Area : Tepatnya berada di antara padatnya
pemukiman yang terletak berapa ratus meter di belakang terminal Pulogadung.
When :
-
Exact time : Tidak dapat
dipastikan
-
First date and
time : Tahun 2000
-
Last date and
time : Sabtu, 9 Januari
2010 pukul 03.00 wib
Orang-orang
yang terlibat dalam kejahatan
Data tentang orang yang terlibat
dalam kejahatan termasuk deskripsi jenis kontak, nama dan alamat orang
tersebut, deskripsi fisik, dan deskripsi kondisi psikis saat kejahatan terjadi.
Tipe kontak: klasifikasi individu
dalam peristiwa kejahatan , termasuk:
-
Investigative
lead: orang yang menjadi tersangka potensial
untuk kasus kejahatan tertentu. Dalam hal ini Baekuni menjadi tersangka
potensial karena korban Ardiansyah diketahui terakhir bersama Baekuni sebelum
dilaporkan menghilang oleh orang tuanya.
-
Mention:
orang yang disebutkan dalam laporan. Dalam hal ini Baekuni disebutkan dalam
laporan orang tua Ardiansyah karena orang tua korban curiga terhadapnya.
-
Suspect:
orang yang telah terlihat terlibat dalam kejahatan atau tentang siapa yang
memiliki bukti cukup untuk dijadikan tersangka (biasanya hanya berupa deskripsi
fisik). Dalam kasus ini Baekuni menjadi tersangka. Saat polisi menggeledah
rumahnya di Pulogadung, polisi menemukan foto-foto anak-anak laki-laki yang
dimasukkan dalam kotak rokok. Foto-foto tersebut berukuran 2 kali 2,5 cm.
-
Victim:
orang yang menjadi korban kejahatan. Dalam kasus ini, yang menjadi korban
adalah anak-anak laki-laki yang berusia 7-12 tahun.
-
Witness:
orang yang mampu menjelaskan informasi tentang suatu kejahatan. Dalam kasus
tersebut, saksi adalah orang tua korban (Ardiansyah).
Nama (dapat berupa nama
samaran)/alamat/tanggal lahir:
Babe bernama asli Baekuni. Ia lahir
tahun 1961 di Magelang, Jawa Tengah. Saat melakukan kejahatannya, Babe tinggal
di jalan Haji Dalim,
gang Sesama RT 06 RW 02 Kelurahan Pulogadung.
Deskripsi fisik: gambaran orang
terkait ciri-ciri fisik yang tetap
-
Usia : 49 tahun (saat
ditangkap)
-
Jenis kelamin : laki-laki
-
Tinggi : 160an
-
Berat badan : 60an kg
-
Warna mata : hitam
-
Ras/etnisitas :Jawa
-
Perawakan :kekar
-
Kondisi gigi : kekuningang akibat merokok
-
Penggunaan tangan :tangan kanan (tidak kidal)
Kondisi fisik: gambaran orang
terkait ciri-ciri fisik yang tidak tetap
-
Warna rambut : sebagian
besar rambutnya sudah beruban
-
Panjang rambut : rambut
pendek
-
Kondisi fisik (pemalu,
gemetar) : tenang, ramah
-
Rambut yang tumbuh di
muka :berkumis
-
Penampilan :dekil
-
Warna kulit :coklat
Lampiran Kasus
Kisah Hidup Pembunuh Berantai[1]
Kamis, 14 Januari 2010, 15:52Eko Priliawito, Sandy Adam Mahaputra
VIVAnews - Namanya singkat. Baekuni. Lahir di Magelang, Jawa
Tengah, pria tinggi kekar ini membuat kita semua merinding sepekan terakhir.
Dia mengaku telah membunuh tujuh anak jalanan.
Semuanya berumur di bawah 12 tahun. Dan ini yang bikin
seram, tiga diantaranya dimutilasi pakai golok. Mereka adalah anak jalan yang
berada di daerah Jakarta Timur.
Sejumlah kabar menyebutkan bahwa lantaran takut mendengar
kisah si Baekuni ini, kawasan Terminal Pulogadung kini sepi dari anak-anak
jalanan. Mereka ngeri membayangkan keganasan pria yang akrab disapa babe itu.
Tapi siapa si babe ini? Tak banyak yang tahu. Informasi
tentang jati dirinya dan riwayat masa kecilnya cuma sedikit yang terkuak.
Sarlito Wirawan, Psikolog Universitas Indonesia, yang bertemu dengan babe di
rumah tahanan Polda Metro Jaya mengisahkan kepada wartawan ihlwal jati diri si
Baekuni ini.
Babe lahir di Magelang. Ayahnya seorang petani.Masa kecilnya
memang tidak bahagia. Selalu diolok-olok teman-teman sekolah, lantaran tidak
pernah naik kelas. Karena tidak naik kelas itu, Baekuni "tamat" di
kelas 3 SD.
Lalu dia kabur sendirian ke Jakarta, pada usia yang masih
sangat belia untuk merantau, 12 tahun. Di ibukota dia menggelandang di
Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Untuk makan-minum sehari-hari dia mencari uang
dengan mengamen.
Anak belia terjun ke dunia yang kelam. Baekuni mengalami
hampir semua kekejaman jalanan. Dia juga pernah disodomi. "Waktu itu dia
menolak tapi karena dipaksa tidak bisa melawan," ujar Sarlito, melalui
surat elektronik yang diterimaVIVAnews, Kamis 14
Januari 2010.
Setelah itu, Babe bertemu seseorang bernama Cuk Saputra,
dia kemudian dibawa ke Kuningan, Jawa Barat dan diminta untuk memelihara
kerbau.
Di Kuningan itulah dia bersua dengan jodohnya. Seorang
wanita yang sangat dicintainya. Dia menikah umur 21 tahun. Tapi jiwa dan
raganya dipenjara trauma. Dan mohon maaf, si Baekuni mengaku tidak mampu
berhubungan --layaknya suami istri- hingga wanita yang dicintainya itu
meninggal dunia.
Ditinggal mati sang istri, Babe kemudian kembali lagi ke
ibukota. Menjajal lagi Jakarta yang sulit. Dia memulai hidupnya di kawasan
Terminal Pulogadung. Menjadi penjual rokok dan memelihara anak jalanan.
Di sanalah harsat seksual yang menyimpang kian menjerat
Baekuni. Bila hasrat seksualnya datang, dia tidak perlu jauh-jauh mencarinya.
Cukup mengambil satu dari anak-anak jalanan yang dipeliharanya. Belakangan
tidak cuma seks yang menyimpang, dia juga membunuh 7 dari anak-anak itu.
Semua kasus pembunuhan yang dilakukan Babe polanya
selalu sama, bila mereka menolak diikat dengan tali rapia. Setelah mati baru
berhubungan seks dan korban dimutilasi untuk menghilangkan jejak.
"Tiga korban dimutilasi dan empat korban pembunuhan
biasa," ujar Sarlito lagi.
Babe juga mengaku bahwa hanya tujuh kali melakukan
hubungan seksual dan hanya dilakukan dengan korbannya. Dia juga tidak pernah
mengalami mimpi basah. Sementara Adi, salah satu korbanya telah dirawat selama
enam bulan oleh Babe.
"Jelas dia homoseks bawaan, bukan jadi-jadian. Dia
hanya bisa ereksi pada sesama jenis," katanya.
Dengan prilaku seperti ini, Babe bisa dikatakan sebagai
penderita pedofil, karena selalu melakukan dengan anak di bawah 12 tahun.
Babe juga pengidap ganguan mikrofili atau berhubungan
seks dengan mayat, walaupun itu terpaksa. Pelaku adalah dampak dari
gambarangan kemiskinan. Namun tidak bisa dibilang psikopat.
"Itu terlalu cepat bilang psikopat. Ada 23 kriteria
untuk mendiagnosa psikopat," ujar Sarlito.
Atas perbuatannya ini, pelaku dapat menjalani proses dan
persidangan karena tidak mengalami gangguan jiwa. Dia selalu melakukan
pembunuhan itu secara sadar.
Jawaban Babe Soal Seks Menyimpangnya[2]
Jum'at, 15 Januari 2010, 13:37Umi Kalsum, Sandy Adam Mahaputra
VIVAnews - Baekuni alias Babe kini
meringkuk di tahanan Mabes Polri untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Babe diduga pelaku pembunuhan terhadap tujuh bocah laki-laki di bawah usia 12
tahun. Empat di antaranya dibunuh dengan dimitulasi.
Setelah membunuh korbannya yang kebanyakan anak jalanan, Babe
kemudian menyodomi bocah-bocah malang tersebut.
Apa jawaban Babe saat ditanya kenapa ia senang menyodomi
korbannya? "Ya begitulah, karena rasanya puas," ujar Babe sambil
tersenyum saat digiring dari ruang tahanan narkoba ke ruang penyidik Reskrimum
di Direktorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat 15 Januari 2009.
Babe secara gamblang mengakui senang dengan anak-anak kecil.
"Karena (mereka) anak kesayangan saya," kata pria berusia 50 tahun
ini.
Dari pemeriksaan psikologis terhadap Babe, yang dilakukan ahli
psikologi Universitas Indonesia, Sarlito Wirawan Sarwono, Kamis 14 Januari 2010
kemarin, dalam melumpuhkan korbannya Babe selalu memiliki pola yang tidak
pernah berubah-ubah. Dia akan memilih korbannya dari luar anak-anak jalan yang
dia pelihara.
Dari pemeriksaan itu terkuak tujuh pembunuhan yang dilakukan
Babe dengan pola yang sama. Kecuali Ardiansyah, korban terakhirnya yang
merupakan anak yang dipeliharanya sendiri.
Seluruh anak jalanan yang dekat dengan Babe hampir tidak pernah
disentuh sejak 2007. Meskipun Sarlito mengatakan bahwa Babe termasuk pedofilia
atau menyukai anak-anak.
Selain memiliki pola memilih dari luar kelompoknya, Babe juga
melakukan pola yang sama saat melakukan tindakan memutilasi tersebut.
"Kompulsinya dia ikuti pola teratur, dia awalnya ajak korban ke kamar
mandi untuk mandi, ketika mau hubungan seks lalu ditolak, setelah di tolak lalu
dia ikat pakai tali rafia, kemudian dilakukan hubungan seks dengan cara di
sodomi, dia selalu gunakan kardus membuang mayat setelah di mutilasi lalu
dibuang ketempat ramai supaya ditemukan orang dan dikubur," jelas Sarlito.
Sedangkan pengacara korban, Haposan Hutagalung mengatakan jika
memang korban Babe bukan dari anak asuhnya. Biasanya babe sudah melihat jika
ada anak jalanan yang menjadi tergetnya, dia akan merawatnya dan korban akan
dapat perlakukan istimewa. Babe selalu memilih anak-anak jalanan yang bersih,
berparas ganteng dan biasanya korban babe adalah teman-teman dari anak asuhnya.
Inilah daftar tujuh korban Babe:
1. Arif Kecil (6), TKP Terminal Pulo Gadung, potong empat tanpa
kepala, Kamis 15 Mei 2008.
2. Adi (12) TKP Pasar Klender, Cakung, 9 Juli 2007, dipotong dua
bagian.
3. Ardiansyah (10) TKP Jalan Raya Bekasi KM 27, Ujung Menteng,
Cakung, Jumat 8 Januari 2010
4. Rio, TKP Depan Bekasi Trade Center, Jalan Joyomartono, Bekasi
Timur, Senin 14 Januari 2008. Dipotong empat tanpa kepala.
5. Riki, TKP Kelapa Gading, luka jerat di leher, anus disumpal
koran. (Tidak Ddimutilasi)
6. Arif Besar di Kuningan, Jawa Barat, tidak dimutilasi, dijerat
lalu dikubur. (Tidak dimutilasi)
7. Yusuf, TKP belum diketahui.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar